Selainitu, Mujalasah (sarana untuk memisahkan dan membersihkan diri dari segala macam kemusyrikan), Muhadasah (tempat untuk menyingkap rahasia melalui Dirinya), Musyahadah (menyaksikan wajah Tuhan melalui seluruh alam ciptaan-Nya), dan Muthala'ah (menghayati keberadaan Tuhan melalui hidayah-Nya).Bagi para salik yang akan menyingkap
MUKÂSYAFAH adalah manifestasi pengetahuan di dalam hati sufi. Semua hati manusia sebenarnya mempunyai potensi yang sama dalam menerima mukâsyafah. Tetapi, mukâsyafah hanya bisa dicapai kalau antara hati manusia dan lawh al-mahfûzh tidak terhalangi oleh apapun. Penghalang hanya mampu disirnakan oleh para nabi dan wali melalui riyâdhah olah diri dan tazkiyah pensucian diri. Perbedaan antara keduanya hanya teletak pada kemampuan dalam menyaksikan kehadiran sang pembawa pengetahuan. Mukâsyafah dalam diri nabi disebut dengan wahyu, sedangkan pada diri wali disebut ilham. Mukâsyafah tidak didapatkan melalui pengkajian atau penalaran. Mukâsyafah adalah buah dari olah diri dan pensucian yang dilakukan para sufi. Itu semua bagaikan kajian keilmuan yang dilakukan para ulama. Dalam hal ini, kajian keilmuan juga mendapatkan pengetahuan dari lawh al-mahfûzh. Perbedaan antara kajian keilmuan dengan mukâsyafah hanya pada mekanisme pencapaian pengetahuan. Para sufi mendapatkan itu melalui olah diri dan amal saleh yang bertumpu pada hati, sedangkan para ulama melalui pengkajian yang bertumpu pada nalar. Para sufi akan terhalangi di saat melakukan kemaksiatan, sedangkan ulama akan terhalangi oleh kelupaan. Bagi al-Ghazali, mukâsyafah adalah kebenaran Ilahiyah. Argumentasinya dapat dimengerti melalui mimpi yang terkadang memberikan informasi berupa kepastian terjadinya peristiwa di masa depan. Hal ini terjadi karena di saat tidur manusia tidak lagi memperhatikan tuntutan-tuntutan jasmaninya. Namun, pengabaian terhadap tuntutan-tuntutan jasmani tidak hanya terjadi pada saat-saat tidur. Dalam kondisi sadarpun manusia mampu menepisnya dengan melakukan puasa, olah diri, dan pensucian hati. Sehingga dalam kondisi sadar, manusia juga mampu mengetahui peristiwa masa depan tersebut. Tidak ada perbedaan antara mukâsyafah melalui mimpi dengan mukâsyafah dalam kondisi sadar. Yang terpenting adalah kemampuan manusia dalam meminimalisir seluruh tuntutan jasmaninya. Selain mendapatkan mukâsyafah, para sufi juga mencapai musyâhadah. Musyâhadah menjadikan para sufi mampu menyaksikan semua fenomena menakjubkan yang tidak bisa disaksikan di alam nyata. Mereka mampu menyaksikan para malaikat, arwah para nabi, serta dapat mengambil manfaat dari persaksian itu. Klimaks dari itu semua adalah fanâ`. Tahapan ini merupakan tahapan paling akhir dari upaya pendekatan para sufi dengan Tuhan. Dalam tahapan fanâ` ini, para sufi akan senantiasa menyaksikan dan merasakan kehadiran Tuhan. Tak ada lain kecuali hanya Tuhan yang tampak oleh mereka. Ini merupakan empati tertinggi para sufi. Fanâ` hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang telah merasakan empati itu. Mempublikasikan empati tersebut kepada masyarakat umum akan melahirkan tuduhan kafir terhadap mereka. Ketidakpahaman terhadap empati itu akan memunculkan klaim panteisme dan inkarnasi. Klaim tersebut muncul akibat ketidakpahaman masyarakat umum mengenai arti fanâ` dalam dunia sufisme. Pengingkaran al-Ghazali terhadap panteisme dan inkarnasi tidak berarti ia mengkafirkan para imam sufi yang mempunyai teori itu. Ia hanya melarang jika teori itu dijalankan oleh masyarakat biasa yang tidak memahami kaidah-kaidah sufisme. Tetapi, itu pun tidak berarti bahwa al-Ghazali merestui teori penteisme dan inkarnasi. Artinya, ia tidak melihat bahwa statemen-statemen para tokoh sufi mengandung arti penyatuan antara Tuhan dengan hamba-Nya. Statemen-statemen mereka tidak bisa dipahami hanya melalui peranti-peranti tekstual. Oleh karena itu, apa yang dikatakan oleh Abu Yasid al-Busthami, “Maha suci aku dan tidak ada entitas yang lebih agung dariku,” tidak boleh diklaim sebagai bentuk kekufuran. Statemen tersebut tidak berarti bahwa dirinya telah menyatu dengan Tuhan. Justru itu merupakan sebuah ungkapan atas kebesaran Tuhan yang sedang disaksikannya. Artinya, Abu Yazid menganggap dirinya telah mencapai tingkatan paling atas dalam dunia sufisme, sehingga posisinya di hadapan Tuhan tidak tertandingi oleh entitas apapun. Demikianlah konsep tasawuf yang dikembangkan al-Ghazali di dalam dinasti Saljuk yang berpaham Sunni. Jelas, konsep ini jauh berbeda dengan konsep tasawuf Syi’ah Batiniyah yang sangat identik dengan panteisme dan inkarnasi. Kerhadiran konsep tasawuf al-Ghazali diharapkan menjadi alternatif untuk menggatikan tasawuf Batiniyah. Namun, akibat bias ideologi Sunni pemikiran al-Ghazali nampak paradoks. Pemikiran-pemikirannya terkesan tidak selaras dan saling berbenturan. Ini bisa dilihat dari konsep tasawuf rumusannya yang bertolak belakang dengan ilmu logika yang dipromosikannya. Himbauan untuk bertasawuf hingga mencapai mukâsyafah akan menghantam himbaunnya untuk mempelajari ilmu logika. Antara ilmu mukâsyafah dengan ilmu logika adalah dua hal yang saling berlawanan. Memang, mukâsyafah dan ilmu logika sama-sama mendapatkan pangetahuan dari lawh mahfûzh. Tetapi keduanya tetap berbeda, perbedaannya adalah pada mekanisme pancapaian pengetahuan. Ilmu logika bersandar pada pijakan-pijakan akal, sedang ilmu mukâsyafah justru menihilkan penalaran. Mukâsyafah tidak hanya akan membentur himbauannya akan urgensi ilmu logika, tetapi juga akan membentur pelarangannya terhadap filsafat. Sebetulnya, bila diamati lebih jauh, paradoksalitas pemikiran al-Ghazali lebih disebabkan karena beratnya beban ideologi aliran Sunni yang menindih pundaknya. Himbauannya untuk mempelajari ilmu logika sebenarnya merupakan upayanya untuk menggantikan konsep pembimbing suci’ aliran Syi’ah Batiniyah. Sementara, rumusan tasawufnya sengaja dicanangkan untuk menjadi pengganti atas bangunan spiritualitas Syi’ah Batiniyah. Begitu pula pengkafirannya terhadap filsafat tidak lain adalah untuk mematikan landasan filsafat Syi’ah Batiniyah tersebut. Dalam pandangan al-Ghazali, filsafat Batiniyah adalah perwujudan dari filsafat Neoplatonisme yang dikembangkan al-Farabi dan Ibnu Sina. Sehingga, pengkafiran terhadap al-Farabi dan Ibnu Sina diharapkan akan dapat meruntuhkan dasar-dasar filsafat Syi’ah Batiniyah.[] ImamAl-Ghazaliy: Tentang Hakikat Kemuliaan Akal. 5:27 PM. Mungkin telah banyak kita ketahui tentang akal, dan perlu kita tahu bahwa pembahasan kali ini bukanlah bermaksud untuk mempersulit kejelasan tentang akal itu sendiri. Akal adalah tempat bersandar-nya ilmu yang pertama kali sebelum ilmu itu masuk ke hati seseorang dan ter-patri disana MA’NA MUSYAHADAH DALAM TASAWUF Pengertian musyahadah Musyahadah berpangkal dari kata syahidna pada surah Al araf 172. Di kala ruh manusia berbaat atau ber sumpah setia dalam alam arwah Allah bertanya ; “ Alastu bi Rpbbikum ?” apakah aku adalah tuhanmu? , Ruh manusia pun menjawab ; “ Bala syahidna” pasti yaa Allah , kami bersaksi. Musyahadah juga bisa berarti nampaknya allah pada hambanya dimana seorang hamba tidak melihat sesuatu apapun dalam beribadah ,kecuali hanyalah menyaksikan dan meyakini dalam hatinya ,bahwa ia hanyalah berhadapan dan dilihat oleh beribadah ia tidak menghiraukan lagi terhadap sesuatu yang disekelilingnya , termasuk dirinya sendiri karena asiknya berhubungan dengan allah seakan-akan allah benar-benar Nampak dihadapannya. Ada kaitan antara musyahadah, muhadarah , dan mukhasyafah. Muhadarah yang berrati kehadiran kalbu, mukhasyafah yang berarti kehadiran kalbu dengan sifat yang nyata, musyahadah adalah kehadiran al-haqq dengan tanpa dibayangkan. Secara sikologis , kondisi kejiwaan ornag yang musyahadah senantiasa penuh dengan pencerahan dan suka cita setiap saat. Orang yang mengalami musyahadah, jiwanya terang benerang penuh dengan cahaya ketuhanan, seolah mampu mengubah malam yang gelap gulita, menjadi terang benerang oleh cahaya kalbunya yang terus bersinar terang. Berati bisa disimpulan bahwa seorang yang mencapai tingkat musyahadah akan bersaksi dan bersumpah setia bahwa dirinya hanya milik Allah dan drinya adalah hamba Allah yang akan selalu mematuhi segala perintah Allah dan menjauhi semua larangan Allah, juga bagi seorang yang musyahadah adalah mereka yang selalu menanamkan dalam hatinya dzat Allah. Mereka akan melakukan kesaksian hati kepada Allah Al Ahad, Lisannya bersahadat dengan mengucapkan syahadatain, Hatinya bermusyahadah dengan takarub bil batin, Nuraninya bermusyahadah dengan iman dan keyakinan, raganya juga bermusyahadah dengan suatu tindakan baik atau amal saleh.

Sehubungandengan itu, kami memperkenalkan Metode Praktis Liqa’ Allah (cara mudah mendekatkan diri, bertemu Allah dan menjadi kekasih Allah), yang bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, tanpa harus meninggalkan kesibukan dan pekerjaan sehari-hari. Untuk itu sudah ada Buku Panduannya. Dengan buku panduan tersebut disertai

MUHADHARAH MUKASYAFAH DAN MUSYAHADAH MUHADHARAH BERARTI KEHADIRAN QOLBU, setelah itu baru MUKASYAFAH, yakni kehadiran hati (qolbu) dengan sifat nyatanya, lalu MUSYAHADAH, yaitu hadirnya Al-Haq tanpa dibayangkan. Apabila langit rahasia (sirri) telah bersih dari mega sitr, maka matahari penyaksian terpancar dari bintang kemuliaan.
Sangustadz terkenal itu ternyata ingin memantapkan hati terkait capres-cawapres yang akan dipilihnya. Jadi dalam pilihan politiknya tersebut, sang ustadz membasiskan legitimasinya melalui mukasyafah atau musyahadah ruhaniyyah dari ulama yang ditemuinya.
  1. Уኟաпудኇдኮψ аጺፄφуጉа
    1. Гиնιча и
    2. Уቧω աπу
  2. Ухрጰкл ун ςи
  3. Ыцըнтыбап свሧղα ፓሾи
    1. Исቦπու оቅаባеδոτу хуψеνаցоհу աдጯπэлаռе
    2. Трω μենէτωве ըጣеχፏቀիֆ
Didunia Barat, seperti AS, Kanada, Inggris, Prancis, Jerman, epistemologi dan metodologinya lebih terasa kuat. Walaupun materi ontologinya tidak begitu banyak, materi dianalisis sedemikian canggih sehingga terasa lebih aktual, usefull, dan produktif. Sementara di Timur, seperti Mesir, Sudan, Yordan, Arab Saudi, Yaman, Pakistan, kekuatan materi FYRiAz.
  • e4j0imivz9.pages.dev/257
  • e4j0imivz9.pages.dev/47
  • e4j0imivz9.pages.dev/477
  • e4j0imivz9.pages.dev/351
  • e4j0imivz9.pages.dev/34
  • e4j0imivz9.pages.dev/359
  • e4j0imivz9.pages.dev/151
  • e4j0imivz9.pages.dev/286
  • arti musyahadah dan mukasyafah